Isu kebijakan
pembatasan BBM akhir-akhir ini mulai meredup. Padahal realisasi kebijakannya
akan dimulai awal bulan April yang berarti tinggal dua bulan lagi.
Berita-berita di media cetak maupun elektronik lebih dipenuhi dengan
kasus-kasus politik. Seperti kasus korupsi yang menjerat para kader partai
penguasa. Masyarakatpun pada akhirnya bertanya-tanya tentang jadi atau tidaknya
kebijakan tersebut diterapkan, atau ada opsi lain dari mekanisme pembatasan BBM
tersebut.
Subsidi
BBM yang cukup menguras habis alokasi anggaran dari APBN memang harus
dipangkas. Apalagi dari tahun ketahun alokasi subsidi BBM mengalami peningkatan.
Tahun 2009 realisasi alokasi subsidi BBM
mencapai 94,6 T dan mengalami pembengkakan di tahun 2010 sebesar 12,8 T bahkan
di tahun 2011 mencapai 165,2 T. Kenaikan ini disebabkan harga minyak mentah
dunia dari tahun ketahun juga mengalami peningkatan dan tingkat konsumsi dari
BBM sendiripun juga meningkat. Apabila subsidi BBM tidak segera dipangkas, maka
akan terjadi pembengkakan alokasi terhadap subsidi BBM. Padahal pertumbuhan
ekonomi Indoneia diharapkan terus melaju positif.
Opsi-opsi
alternative kebijakan pengetatan anggaran subsidi BBM yang ditawarkanpun
semakin beragam. Pengkajian dari para ekonom tentang opsi-opsi yang bisa
dilaksanakan oleh pemerintah dengan prediksi-prediksi dampak yang akan terjadi
apabila opsi tersebut diambil sudah sangat lengkap. Pemerintah tinggal
menentukan kebijakan yang paling tepat dengan meminimalisasi dampak buruk yang
akan terjadi. Mencari kebijakan yang tidak menimbulkan inflasi yang tinggi, pro
dengan UMKM akan tetapi tetap bisa menghemat alokasi anggaran subsidi BBM dan
ekonomi akan terus tumbuh positif.
Melihat
urgensitas dari alokasi anggaran subsidi BBM yang terus meningkat maka
pemerintapun harus berani mengambil resiko membatasi atau menaikkan harga BBM. Meskipun akan terjadi
tingkat penurunan popularitas masyarakat terhadap kabinet jilid II SBY-Budiono.
Padahal sebelum melaksanakan kebijakan inipun tingkat kepercayaan terhadap
kabinet jilid II SBY-Budiono sudah mengalami penurunan yang cukup drastis. Menurut
Lembaga Survey Indonesia tingkat kepercayaan masyarakat menurun sekitar 15%
dari 52,3% menjadi 37,7% pada September 2011 kemarin. Kasus korupsi yang
membelit kementrian-kementrian pada kabinet SBY-Budiono jilid II serta
kader-kader partai penguasa menjadi salah satu factor utama penurunan tingkat
popularitas tersebut.
Kasus
korupsi yang berkembang tadi selain menurunkan tingkat kepercayaan terhadap
kabinet juga menurunkan tingkat
kepercayaan terhadap partai yang notabene dewan penasihatnya adalah Presiden Susilo Bambang Yudoyono sendiri.
Dengan menurunnya tingkat kepercayaan terhadap partai, otomatis juga akan menurunkan masa yang memilih
partai tersebut. Hal tersebut akan berdampak negative terhadap pemilu yang
diadakan pada tahun 2014. Partai berkuasapun tidak mungkin mengorbankan
popularitasnya begitu saja. Mereka akan mencari cara untuk tetap mempertahankan
popularitasnya. Oleh karena itu kebijakan pemerintah menjadi salah satu wadah kepentingan-kepentingan
partai.
Dalam
hal ini, profesionalitas pemerintahpun akan diuji. Dibuktikan dengan sikap yang
akan diambil pada bulan April nanti. Pembatasan harga BBM hanya menjadi sekedar
isu belaka atau akan terealisasi. Pemerintah
harus mengambil keputusan yang cukup bijak dalam mengatasi hal ini. Resiko
penurunan citra ataupun perbaikan ekonomi secara bertahap. Kebijakan pemerintah
merupakan tonggak dari kondisi ekonomi baik mikro atapun makro untuk
tahun-tahun berikutnya. Diharapkan pemerintah akan berpikir jernih sehingga
tidak hanya sekedar nama yang dipertahankan akan tetapi juga perbaikan dan
pertumbuhan ekonomi kedepan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar