Merapi

Merapi
kebebasan layaknya gunung yang berdiri tegap dan melakukan apa yang dia mau.. akan terusik apabila kejailan mulai mengganggu

Sabtu, 21 Januari 2012

Tanpa Judul

terkadang saya ingin sendiri dan meyepi
melamunkan semua keadaan yang sedang terjadi
terkadang seperti hidup dalam tekanan
dibawah kaki-kaki manusia
Apakah itu? 
entahlah, saya pun tidak juga mengerti
satu hal yang pasti, saya ingin bebas
selalu berdiri dengan kaki saya sendiri
tak terkungkung dengan kekuatan yang sedang mendominasi

melakukan yang saya mau, sesuai hati nurani
tak ada sedikitpun kemunafikan
menjilat sana-sini
karena saya adalah saya,
saya bukan dia ataupun mereka
tak peduli seberapa deras arus
akan saya lawan demi mendapatkan kebebasan
tak peduli musuh yang akan datang berlipat-lipat
akan saya perjuangkan demi tegaknya kebenaran dan harga diri.

Sabtu, 14 Januari 2012

Peran Apa yang Diambil Organisasi Eksternal “HMI” Terhadap Politik Intra Pada Saat Ini????


“Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan harus menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya. Kadang saya takut apa jadinya saya kalau patah-patah”
-Soe Hok-Gie-
Soe Hok Gie adalah salah satu contoh yang sangat ideal untuk kita sebagai mahasiswa. Idealisme dan kekritisannya tidak pudar bahkan sampai dia harus menghembuskan nafas terakhir. Di zaman yang terhitung sangat keras, dimana kebebasan bersuara dibungkam oleh para penguasa, dia tetap bisa melontarkan kritik-kritik yang sangat pedas untuk menyindir pemerintahan pada saat itu. Bahkan tidak jarang Gie mendapatkan peringatan yang cukup keras ketika berada di jalan. Tetapi Gie tidak pernah menyerah, dan terus melakukan apa yang dia anggap benar.
Inilah potret pemuda yang benar-benar menjunjung idealismenya, bukan hanya idealisme pada saat mahasiswa dan memudar ketika sudah masuk dunia kerja. Meskipun dalam hal ini soe hok gie adalah salah satu orang yang tidak menyukai organisasi eksternal terutama HMI karena dengan berbagai alasan dan latar belakang, akan tetapi saya meminta kalian berpikir terbuka dengan semua hal dengan berbagai sudut pandang
.”Biarkan seratus bunga berkembang dan seratus pikiran yang berbeda-beda bersaing"
-Mao Tse Tung-
Kata-kata ini adalah representasi dari kita sebagai mahasiswa harus berpikiran kritis dan terbuka melihat keadaan dan isu-isu yang terjadi di kampus. Dan kita sebagai intelektual muda mencoba untuk mencari solusi yang sesuai dengan rasionalitas dalam berpikir serta melakukan tindakan represif dalam menanggapi isu-isu tersebut. Nah apa yang akan kita lakukan sebagai anggota pergerakan mahasiswa yang melihat anggota pergerakan lain dibungkam seperti yang terjadi pada awal orde baru?
Menilik Sekilas Sejarah HMI
Ketika mendengar tentang pergerakan mahasiswa pada tahun 1966, semua itu tidak lepas dari peran organisasi-organisasi eksternal pada saat itu. Penurunan orde lama yang saat itu dipimpin oleh Soekarno dan kemudian digantikan oleh orde baru Soeharto.  Terutama HMI yang pada saat itu sangat Berjaya,tidak lepas perannya dalam penurunan orde lama. Oleh karena itu banyak alumni HMI juga masuk kedalam birokrasi orde baru Indonesia karena HMI  tidak hanya berperan diperpolitikan intra kampus,bahkan sampai kancah nasional. Pada saat itu organisasi eksternal kampus cenderung menguasai politik intra kampus. Seperti Senat Mahasiswa yang sekarang dinamakan BEM. Meskipun organisasi eksternal pada saat ini masih berperan di politik intra, tetapi peran tersebut sudah cenderung surut. Mereka cenderung menarik diri dari perpolitikan intra. Meski ada juga organisasi yang sangat dominan perannya di organisasi intra kampus tersebut. Akan tetapi untuk saat ini yang perlu diingat, masih relevan kan organisasi-organisasi eksternal pada saat ini. Seandainya iya, apa sebenarnya peran organisasi eksternal sebenarnya?
Banyak kalangan mahasiswa yang cenderung tidak berminat dengan organisasi eksternal itu sendiri, mengapa demikian? Ada beberapa orang yang menyimpulkan organisasi eksternal hanya akan menimbulkan pengkotak-kotakan saja. Ini bukan jaman Soe Hok Gie bro, buat apa ikut organisasi eksternal. Bisa dipahami,karena memang tidak bisa dipungkiri organisasi-organisasi eksternal pada saat ini cenderung menimbulkan persaingan –persaingan yang cenderung tidak sehat. Permainan politik kampus tidak bisa terlepas dari peran organisasi eksternal itu sendiri. Black campaign yang sudah biasa terjadi di politik Negara Indonesia, juga sering terjadi di politik intra kampus. Ini adalah salah satu sebab mengapa mahasiswa cenderung apatis dengan perpolitikan intra kampus.
Melihat dari kondisi yang terjadi pada sekarang ini. Ketika pembungkaman terhadap aspirasi-aspirasi mahasiswa dilakukan kembali, kita sebagai anggota HMI apakah akan tinggal diam. Ataukah kita punya cara lain dalam melibatkan diri kita dalam menanggapi isu-isu kampus? Melihat peran HMI yang dulunya begitu besar di kampus dan sekarang cenderung meredup.
Perjuangan tak pernah berakhir karena hidup adalah perjuangan. Dan perjuangan akan terus ada ketika jiwa-jiwa gelisah akan ketidakadilan itu ada. Demi negeri, Indonesia tercinta.

Kamis, 05 Januari 2012

Indonesia Kita

Ketika mendengar kata " Indonesia Kita ", saya yakin tak semua masyarakat Indonesia tahu tentang apa arti Indonesia sebenarnya yang notabene adalah negara mereka sendiri. Indonesia adalah suatu negara yang sangat besar yang terdiri dari berjuta-juta pulau dan mengakibatkan terjadi berbagai macam perbedaan didalamnya. Mulai dari bahasa, adat istiadat, suku, agama, budaya dan lain sebagainya. Apa itu suatu hal yang patut dibanggakan? jawabannya iya. Itu adalah hal yang patut dibanggakan karena dengan berabagai macam keberagaman tersebut kita masih bisa hidup berdampingan dengan begitu mesranya tanpa terlalu menonjolkan perbedaan. Akan tetapi akan menjadi sebuah ancaman juga apabila kita lengah dalam pertahanan khususnya untuk pulau-pulau terluar Indonesia.

Pertanyaan selanjutnya? mengapa kita sebagai masyarakat Indonesia tidak bangga dengan negara sendiri yaitu " Indonesia ". apalagi melihat kenyataan anak muda sekarang yang cenderung lebih membanggakan negara-negara Barat yang bahkan dahulu sempat menjajah kita. Anak-anak muda yang belum memberikan apa-apa terhadap bangsanya akan tetapi banyak omong dan menghujat bangsa. Bahkan terkadang otak kosong pun bisa bicara seenaknya tentang bangsa Indonesia. hal yang tak pernah terpikirkan oleh para anak muda sekarang adalah bagaimana semangat juang para pahlawan kita yang rela mengorbankan dirinya demi kemerdekaan bangsaa Indonesia sendiri. Para pahlawan yang menginginkan Indonesia  bisa menjadi negara yang maju dan membanggakan dengan generasi penerus yang membanggakan pula. Salah satu kesalahan dari generasi sekarang karena mereka tidak mengenal bangsanya sendiri bahkan tau akan sejarah bangsanya sendiri. ini yang menyebabkan rasa nasionalisme mulai terkikis sedikit demi sedikit.

Membicarakan masalah nasionalisme dalam hal membela negara taupun menjaga nama baik bangsa mungkin sudah cukup mustahil untuk dilaksanakan. Tidak usah terlalu jauh membicarakan masalah tersebut, hal sepele dalam hal menjaga hujatan aja susah. Demokrasi yang kemudian menjadi kebablasan tanpa mengenal kesantunan. Apa ini yang dinamakan bentuk dari sebuah Nasionalisme. Teriak kesana-kemari kemudian menjadi sorotan media Nasional bahkan Internasional yang tak jarang malah semakin memperburuk citra bangsa. Apalagi dengan kalimat-kalimat yang tak terkontrol.

Melihat realita tersebut sebuah quote dari bung Hatta salah satu pahlawan revolusi kita masih sangat relevan sampai saat ini bahwa " barangkali sekarang ini pun Indonesia adalah sebuah negara besar yang menemukan orang-orang kerdil". kesalahan terbesar mengapa suatu negara itu tidak menjadi besar adalah terletak di Sumber Daya Manusianya. Apabila diibaratkan, seperti sebuah permainan sepak bola. Bola sebagai negara yang akan mengikuti siapa penggiringnya. Apabila pemainnya itu hebat, maka bola itu akan sampai tujuan dan menciptakan poin yang diinginkan. Apabila pemainnya buruk, maka poin itupun tidak bisa dicetak. Sama seperti sebuah negara, tergantung para aktor didalam yang akan membawa negara itu kemana. Nah permasalahannya banyak sekali generasi sekarang yang hanya bisa menyalahkan dan mengkritisi tanpa memberikan solusi. bahkan mungkin malah ikut andil dalam praktek pembobrokan bangsa.  Generasi yang kurang menggunakan otaknya sehingga seperti katak dalam tempurung yang tidak bisa mengembangkan pemikirannya.  Keapatisan dan kepragmatisan yang semakin merajarela membuat otak kita semakin kerdil karena cenderung menjadi seorang yang mengikuti arus saja tanpa peduli apa dan darimana asal usulnya.

Generasi yang mengerti akan arti sebenernya dari Indonesia Kita dan mencintainya adalah generasi yang berpikir kritis dan mau menganalisa sebelum bersuara ataupun bertindak untuk negaranya. Dan tidak melakukan berbagai tindakan dan perilaku tidak benar dari masa lalu yang jelas-jelas telah menjerumuskan bangsa dan negara kepada kehancuran diulangi dengan sadar dan tanpa perasaan bersalah (Nurcholis Madjid ). Kenalilah Indonesia secara mendalam, bagaimana alur sejarah terbentuknya. Seperti kata bung Karno, " jas merah '' yang pada intinya jangan melupakan sejarah. Karena dari sejarah itulah kitaa bisa mengambil sebuah sikap. Mengetahui apa tujuan luhur sebenarnya dari bangsa kita. Vokal dan Kritislah karena itu memang perlu. Akan tetapi niat dan dedikasikan itu memang hanya untuk kebaikan negara. Jaga netralitas bukan hanya sekedar bualan kepentingan. Jadikan kita sebagai aktor intelektual yang benar-benar hebat untuk bangsa. Melakukan apa yang memang dibutuhkan dengan cara dan analisa yang benar demi satu kenajuan bangsa. Bangsa yang besar, bangsa dimana generasinya mengetahui dengan dalam tentang bangsanya.