Merapi

Merapi
kebebasan layaknya gunung yang berdiri tegap dan melakukan apa yang dia mau.. akan terusik apabila kejailan mulai mengganggu

Sabtu, 14 Januari 2012

Peran Apa yang Diambil Organisasi Eksternal “HMI” Terhadap Politik Intra Pada Saat Ini????


“Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan harus menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya. Kadang saya takut apa jadinya saya kalau patah-patah”
-Soe Hok-Gie-
Soe Hok Gie adalah salah satu contoh yang sangat ideal untuk kita sebagai mahasiswa. Idealisme dan kekritisannya tidak pudar bahkan sampai dia harus menghembuskan nafas terakhir. Di zaman yang terhitung sangat keras, dimana kebebasan bersuara dibungkam oleh para penguasa, dia tetap bisa melontarkan kritik-kritik yang sangat pedas untuk menyindir pemerintahan pada saat itu. Bahkan tidak jarang Gie mendapatkan peringatan yang cukup keras ketika berada di jalan. Tetapi Gie tidak pernah menyerah, dan terus melakukan apa yang dia anggap benar.
Inilah potret pemuda yang benar-benar menjunjung idealismenya, bukan hanya idealisme pada saat mahasiswa dan memudar ketika sudah masuk dunia kerja. Meskipun dalam hal ini soe hok gie adalah salah satu orang yang tidak menyukai organisasi eksternal terutama HMI karena dengan berbagai alasan dan latar belakang, akan tetapi saya meminta kalian berpikir terbuka dengan semua hal dengan berbagai sudut pandang
.”Biarkan seratus bunga berkembang dan seratus pikiran yang berbeda-beda bersaing"
-Mao Tse Tung-
Kata-kata ini adalah representasi dari kita sebagai mahasiswa harus berpikiran kritis dan terbuka melihat keadaan dan isu-isu yang terjadi di kampus. Dan kita sebagai intelektual muda mencoba untuk mencari solusi yang sesuai dengan rasionalitas dalam berpikir serta melakukan tindakan represif dalam menanggapi isu-isu tersebut. Nah apa yang akan kita lakukan sebagai anggota pergerakan mahasiswa yang melihat anggota pergerakan lain dibungkam seperti yang terjadi pada awal orde baru?
Menilik Sekilas Sejarah HMI
Ketika mendengar tentang pergerakan mahasiswa pada tahun 1966, semua itu tidak lepas dari peran organisasi-organisasi eksternal pada saat itu. Penurunan orde lama yang saat itu dipimpin oleh Soekarno dan kemudian digantikan oleh orde baru Soeharto.  Terutama HMI yang pada saat itu sangat Berjaya,tidak lepas perannya dalam penurunan orde lama. Oleh karena itu banyak alumni HMI juga masuk kedalam birokrasi orde baru Indonesia karena HMI  tidak hanya berperan diperpolitikan intra kampus,bahkan sampai kancah nasional. Pada saat itu organisasi eksternal kampus cenderung menguasai politik intra kampus. Seperti Senat Mahasiswa yang sekarang dinamakan BEM. Meskipun organisasi eksternal pada saat ini masih berperan di politik intra, tetapi peran tersebut sudah cenderung surut. Mereka cenderung menarik diri dari perpolitikan intra. Meski ada juga organisasi yang sangat dominan perannya di organisasi intra kampus tersebut. Akan tetapi untuk saat ini yang perlu diingat, masih relevan kan organisasi-organisasi eksternal pada saat ini. Seandainya iya, apa sebenarnya peran organisasi eksternal sebenarnya?
Banyak kalangan mahasiswa yang cenderung tidak berminat dengan organisasi eksternal itu sendiri, mengapa demikian? Ada beberapa orang yang menyimpulkan organisasi eksternal hanya akan menimbulkan pengkotak-kotakan saja. Ini bukan jaman Soe Hok Gie bro, buat apa ikut organisasi eksternal. Bisa dipahami,karena memang tidak bisa dipungkiri organisasi-organisasi eksternal pada saat ini cenderung menimbulkan persaingan –persaingan yang cenderung tidak sehat. Permainan politik kampus tidak bisa terlepas dari peran organisasi eksternal itu sendiri. Black campaign yang sudah biasa terjadi di politik Negara Indonesia, juga sering terjadi di politik intra kampus. Ini adalah salah satu sebab mengapa mahasiswa cenderung apatis dengan perpolitikan intra kampus.
Melihat dari kondisi yang terjadi pada sekarang ini. Ketika pembungkaman terhadap aspirasi-aspirasi mahasiswa dilakukan kembali, kita sebagai anggota HMI apakah akan tinggal diam. Ataukah kita punya cara lain dalam melibatkan diri kita dalam menanggapi isu-isu kampus? Melihat peran HMI yang dulunya begitu besar di kampus dan sekarang cenderung meredup.
Perjuangan tak pernah berakhir karena hidup adalah perjuangan. Dan perjuangan akan terus ada ketika jiwa-jiwa gelisah akan ketidakadilan itu ada. Demi negeri, Indonesia tercinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar