“Di
Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama
memutuskan harus menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya. Kadang saya takut
apa jadinya saya kalau patah-patah”
-Soe
Hok-Gie-
Soe
Hok Gie adalah salah satu contoh yang sangat ideal untuk kita sebagai
mahasiswa. Idealisme dan kekritisannya tidak pudar bahkan sampai dia harus
menghembuskan nafas terakhir. Di zaman yang terhitung sangat keras, dimana
kebebasan bersuara dibungkam oleh para penguasa, dia tetap bisa melontarkan
kritik-kritik yang sangat pedas untuk menyindir pemerintahan pada saat itu. Bahkan
tidak jarang Gie mendapatkan peringatan yang cukup keras ketika berada di
jalan. Tetapi Gie tidak pernah menyerah, dan terus melakukan apa yang dia
anggap benar.
Inilah
potret pemuda yang benar-benar menjunjung idealismenya, bukan hanya idealisme
pada saat mahasiswa dan memudar ketika sudah masuk dunia kerja. Meskipun dalam
hal ini soe hok gie adalah salah satu orang yang tidak menyukai organisasi
eksternal terutama HMI karena dengan berbagai alasan dan latar belakang, akan
tetapi saya meminta kalian berpikir terbuka dengan semua hal dengan berbagai sudut
pandang
.”Biarkan seratus bunga berkembang
dan seratus pikiran yang berbeda-beda bersaing"
-Mao Tse Tung-
-Mao Tse Tung-
Kata-kata
ini adalah representasi dari kita sebagai mahasiswa harus berpikiran kritis dan
terbuka melihat keadaan dan isu-isu yang terjadi di kampus. Dan kita sebagai
intelektual muda mencoba untuk mencari solusi yang sesuai dengan rasionalitas
dalam berpikir serta melakukan tindakan represif dalam menanggapi isu-isu
tersebut. Nah apa yang akan kita lakukan sebagai anggota pergerakan mahasiswa yang
melihat anggota pergerakan lain dibungkam seperti yang terjadi pada awal orde
baru?
Menilik
Sekilas Sejarah HMI
Ketika
mendengar tentang pergerakan mahasiswa pada tahun 1966, semua itu tidak lepas
dari peran organisasi-organisasi eksternal pada saat itu. Penurunan orde lama
yang saat itu dipimpin oleh Soekarno dan kemudian digantikan oleh orde baru Soeharto.
Terutama HMI yang pada saat itu sangat
Berjaya,tidak lepas perannya dalam penurunan orde lama. Oleh karena itu banyak
alumni HMI juga masuk kedalam birokrasi orde baru Indonesia karena HMI tidak hanya berperan diperpolitikan intra
kampus,bahkan sampai kancah nasional. Pada saat itu organisasi eksternal kampus
cenderung menguasai politik intra kampus. Seperti Senat Mahasiswa yang sekarang
dinamakan BEM. Meskipun organisasi eksternal pada saat ini masih berperan di
politik intra, tetapi peran tersebut sudah cenderung surut. Mereka cenderung
menarik diri dari perpolitikan intra. Meski ada juga organisasi yang sangat
dominan perannya di organisasi intra kampus tersebut. Akan tetapi untuk saat
ini yang perlu diingat, masih relevan kan organisasi-organisasi eksternal pada
saat ini. Seandainya iya, apa sebenarnya peran organisasi eksternal sebenarnya?
Banyak
kalangan mahasiswa yang cenderung tidak berminat dengan organisasi eksternal
itu sendiri, mengapa demikian? Ada beberapa orang yang menyimpulkan organisasi
eksternal hanya akan menimbulkan pengkotak-kotakan saja. Ini bukan jaman Soe
Hok Gie bro, buat apa ikut organisasi eksternal. Bisa dipahami,karena memang
tidak bisa dipungkiri organisasi-organisasi eksternal pada saat ini cenderung
menimbulkan persaingan –persaingan yang cenderung tidak sehat. Permainan
politik kampus tidak bisa terlepas dari peran organisasi eksternal itu sendiri.
Black campaign yang sudah biasa terjadi di politik Negara Indonesia, juga
sering terjadi di politik intra kampus. Ini adalah salah satu sebab mengapa
mahasiswa cenderung apatis dengan perpolitikan intra kampus.
Melihat
dari kondisi yang terjadi pada sekarang ini. Ketika pembungkaman terhadap
aspirasi-aspirasi mahasiswa dilakukan kembali, kita sebagai anggota HMI apakah
akan tinggal diam. Ataukah kita punya cara lain dalam melibatkan diri kita
dalam menanggapi isu-isu kampus? Melihat peran HMI yang dulunya begitu besar di
kampus dan sekarang cenderung meredup.
Perjuangan tak pernah berakhir
karena hidup adalah perjuangan. Dan perjuangan akan terus ada ketika jiwa-jiwa
gelisah akan ketidakadilan itu ada. Demi negeri, Indonesia tercinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar